Jumat, 30 Desember 2016

Desa Yang Malang. Chapter 3 : ~Mayat Kedua~

Chapter 3.

Tak beberapa lama setelah kematian Yura Mitsuno, aku memutuska untuk menyelidikinya. karena aku telah merasakan banyak sekalai keanehan-keanehan yang muncul akhir-akhir ini.
Sepulang sekolah aku bertemu dengan temanku Natsuno. "Konichiwa Yuuki-kun" sapa natsuno.
"Konichiwa mo. Natsuno, malam ini aku akan menginap dirumamu.?" Balasku.
"Tentu saja Yuuki, kau bahkan boleh tinggal kapan saja." Katanya sambil merangkulku. beginilah yang tidak aku sukai darinya.
"Aku pulang"
"Natsuno, siapa dia?" Tanya Ibu Natsuno.
"Dia temanku bu, anaknya tukang kayu yang baru pindahan itu." Jawab Natsuno.
"Oh dia ya, silahkan-silahkan." 
"Ayo Yuuki, kita masuk kekamarku." Ajaknya.
Kami berdua masuk kekamarnya, 
Aku menjoba berfikir dan mencari bukti, sebenarnya apa yang sedang terjadi? musibah apa yang menimpa desa ini? sejak kematian Yura Mitsuno,  satu persatu warga desa juga ikut meninggal, dengan penyakit dan keanehan yang seama.
"Apa yang kau lakukan Yuuki?" Tanya Natsuno keheranan karena tingkahku.
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Yasudah deh, sebaiknya cepat tidur. kakmu tidur difutan, sedangkan aku akan tidur dikasur, oke." katanya.
"Baiklah, selamat tidur." Balasku.
Aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar Natsuno. wajahku pucat pasi. suara langkah kaki itu semakin mendekat. suaranya sudah sampai pada pintu kamar Natsuno, Wajahku semakin pucat. tiba-tiba, suara langkah kaki itu menghilang. meskipun begitu, aku semakin khawatir. Tiba-tiba seeorang muncul dari bawah kolong ranjang yang ditempati Natsuno. Aku kenal orang itu, dia adalah gadis ang meninggal bulan lalu, Yura Mitsuno........
Wajahku semakin pucat pasi, dia berbica padaku. Membuatku semakin mengeluarkan keringat dingin.
"Yuuki-ku. aku tidak suka dengan orang ini *menunjuk natsuno*, karna dia selalu dekat denganmu, sedangkan aku tidak bisa dekat denganmu. orang yang seperti ini sebaiknya mati saja. Benarkan Youkai-san? *melirik keluar jendela* " Kataya.
aku semakin merinding dibuatnya. tiba-tiba dia mendekati Natsuno, dia memperhatikan lehernya. kemudian dia membuka mulutnya. terlihat taring-taringnya yang tajam. dia mendekatkan mulutnya keleher natsuno. aku mencoba menghentikannya tapi tubuhku kaku dan suaraku menghilang. semakin dekat. tiba-tiba munjul cahaya putih yang cepat kilat dan sangat silau......
Aku terbangun, mimpi, apakah itu mimpi? Yura Mitsuno hidup kembali? dengan cepat aku bengikit dan melihat keadaan Natsuno. Utung saja dia baik-baik saja. aku yakin itu hanya mimpi.
Paginya aku kembali sekolah. Tepat setelah aku sampai disekolah, aku mencari Natsuno untuk memastikan keadaannnya. bukan bertemu dengannya, aku malah bertemu dengan adiknya. Aku menanyakan tentangnya. ternyata dia tidak masuk hari ini.
"Hari ini kakak tidak masuk. dia sedang sakit, aku tidak tau pasti dia sakit apa. tapi yang aku tau dia tamoak lesu dan linglung" Kata Adiknya.
"Begitu ya.? bolehkan aku menjenguknya." Tanyaku.
"Tentu saja. Nanti sepulang sekolah aku akan menunggumu di gerbang sekolah." Kata Adiknya.
"Tidak perlu. aku akan kesana sendiri, sepulang sekolah aku masih ada urusan" kataku.
"Baiklah, aku pergi dulu. permisi."
Bel pulang telah berbunyi.
Aku berjalan menuju rumah Natsuno. ketika aku hampir sampai dirumahnya tiba-tiba Dokter Haruno datang dengan motornya secepat kilat. Dan buru-buru masuk kerumah Natsuno. Apa yang terjadi?
Aku memasuki rumahnya. Terlihat banyak orang yang merenung. Aku semakin kebingungan dan penasaran. Kemudian bergegas kekamar Natsuno. Krtika membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Adiknya mendekatiku sambil menangis. Dokter Haruno juga ada disana sambil mengelah pasrah.
Aku melihat tubuh Natsuno untuk yang terakhir kalinya, aku menemukan hal yang janggal. Yaitu, seperti gigitan serangga pada kehernya.
Aku benar-benar tidak percaya. Aku mengikuti upacara pemakamannya dengan menahan dukaku. aku tidak bisa menambah benan keluarganya.....
Pada akhirnya, hal yang aku ingat adalah. Yura Magumi telah bangit dan menbunu Natsuno........


~Go to Chapter 4~

Selasa, 20 Desember 2016

Desa Yang Malang. Chapter 2 : ~Kematian pertama~



Sudah satu minggu sejak dia meberitahu namanya, tetapi dalama satu minggu ini dia malah tidak muncul. Tidak seperti biasanya yang selalu mengikutiku. Apa yang sebanarnya terjadi?
Kabar demi kabar telah tersebar, gadis itu, Yura Mitsuno. Telah meninggal?
Awal mula sebelum kejadian... ~Yura Mitsuno~
Aku merasa sangat lega sekali karena sudah kusampaikan keinginanku padanya. Aku berharap, diamengerti. Meskipun dia pasti tidak peduli.
Aku gelisah, sudah dua hari sejak saat itu, tapi sampai sekarang dia tidak membalas suras kadoku. Apa lebih baik aku menemuinya ya?
Baiklah aku akan menemuinya.
....
Aku berjalan menyusuri desa, menuju tempat tinggal Tokugawa Yuuki-kun. Aku berharap dia tidak pergi keluar.
Dengan riang aku berjalan sambil berdendang, tapi......
Tubuhku serasa bergerak sendiri, menuju rumah mewah diatas bukit sana. Kudengar dari para warga bahwa baru saja ada keluarga yang pindah kesana. Tanpa diduga tanpa dirasa, keinginanku pun berubah untuk menyelidiki rumah itu.
Aku menuruti hati dan tubuhku, dan memasuki rumah itu....
Rumah Yura Mitsuno....
“kotoba, anakmu pergi kamana?” kata ayah Yura.
“Aku tidak tau, bahkan aku juga khawatir Mistuno” kata ibu Yura.
“ya tuhan, lindungilah putri kami...” kata ibu Yura.
Saat aku berjalan didepan rumah Yura Mitsuno, tak sengaja aku mendengarkan omongan para orang tua didepan rumahnya..
“Mitsuno-san, mitsuno-san...Yura..Yura telah ditemukan, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri...!” kata salah satu tetangga keluarga Mitsuno.
“Benarkah? Beritahu aku dimana dia.!?” Kata Mitsuno-san dengan wajah panik.
“Dia dibawa ke klinik Haruno-san.” Jawab salah satu warga lainnya.
“Baiklah kami akan kesana. Kotoba, ayo!” seru Mitsuno-san.
Setelah itu, mereka menemui Yura Mitsuno ke klinik Haruno-san.
Aku diam-diam mengikuti mereka.
Aku mengintip dari jendela kamar yang dipakai untuk merawat Yura Mitsuno. Kulihat wajahnya yang sangat pucat, terlihat linglung, dan sangat dingin. Meski aku hanya melihatnya.
Wajah panik dan kasihan terlukis di wajah orang tuanya. Sedangkan ibu Yura mitsuno sudah menangis sejadi-jadinya.
Aku segera meninggalkan klinik dan pulang.
Tidak lama setelah ditemukannya Yura Mitsuno, ada kabar bahwa dia meninggal.
Aku kembali mengunjungi klinik. Seperti biasa, aku selalu kesana diam-diam.
Kotoba-san kembali menangis dan Mitsuno-san mencoba untuk menenangkan Kotoba-san.
Aku juga melihat dokter Haruno dengan tidak kuasanya menahan kegagalannya. Meskipun ini bukan sepenuhnya menjadi salahnya.
Aku pergi kerumahnya untuk melayat, aku hanya memberi penghormatan terakhir lalau pulang.
“Tokugawa Yuuki-san...!!” kata seorang gadis yang berlarian menujuku.
“Hm, siapa kau, ada urusan apa?” balasku.
“Sebentar, sepertinya aku pernah melihatmu bersama Yura Mitsuno. Apa kau temannya?” lanjutku.
“Iya benar, aku temannya. Tokugawa-san aku mohon terimalah ini, ini adalah ucapan terakhir Yura-chan, aku mohon bacalah!” kata gadis itu bersama diberikannya sebuah surat. Aku menerimanaya.
“Ano, apa kamu tidak ikut kepemakan Yura-chan?” kata gadis itu lagi.
“Aku tidak punya hak untuk mengikuti pemakamannya. Lagi pula, aku bukan apa-apanya.” Kataku dingin dan meninggalkan rumah duka Yura Mitsuno.
Aku kembali kerumah, dengan perasaan seperti tidak terjadi apa-apa, karna aku memang orang bertipe tidak peduli.
“Sekarang aku tidak perlu lagi menutup jendela kamarku.”
.........

Desa Yang Malang. Chapter 1: ~Gadis itu~



Sudah sekitar satu tahun aku berada didesa ini, desa terpencil yang bernama Takuyaki.
“Tokugawa-kun, Ohayou..!” kata seorang gadis dibelakangku, didikuti suara langkah kakinya yang cepat.gadis itu selalu menemuiku setiap pagi, entah apa tujuannya. Semenjak aku tinggal disini, aku selalu diikuti oleh gadis itu. Dan itu membuatku merasa risih.
Aku hanya membiarkan dan tidak membalas spaannya. Tapi baginya,aku melihat wajahnya saja sudah membuatnya bahagia.
Aku berjalan menyusuri desa, dan berkali-kali melihat para orang tua didesa sedang bergosip. Telingaku teras panas mendengarnya. Aku berharab bisa segaera keluar dari desa yang busuk ini.
“Aku pulang.” Kataku sambil mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Kulihat orang dibalik pintu itu. Tokugawa Kisimoto, ayahku. Dia yang membuka pintunya.
“Yuuki, kau habis dari mana?” tanya beliau.
“Aku habis keluar, sekarang aku capek, aku mau kekamar.” Kataku dan beranjak kekamar.
Seandainya ayah berubah pikiran, seandainya beliau tidak pindah kedesa busuk ini.......
Cerita asal mula aku disini...... ~Tokugawa Yuuki~
Saat itu, aku masih duduk di kelas 3 SMP di Kyoto. Aku merasa nyaman tinggal disana. Kota besar yang menyediakan semua kebutuhanku. Dan mereka, kakek, nenek , ayah, dan ibuku, mereka semua menyayangiku. Tapi, kemalangan yang besar menimpa keluargaku. Kakekku meninggal ketika nenek tertimpa sakit berat. Dan tak lama setelah kepergian kakek, nenk pun ikut meningglakan kami. Pada awalnya aku tak percaya akan jadi sperti ini. Kemudian ayah mengambil keputusan untuk meninggalkan kota dan tinggal didesa. Pada awalnya aku memang sudah tidak setuju, karena aku tak tega meninggalkan makam kakek dan nenek sendiri di Kyoto yang ramai ini, tapi aku tak bisa melawan permintaan ibu. Dan karena itulah aku mau tinggal didesa ini.
Jujur saja, aku sangat tidak nyaman tinggal didesa ini. Aku ingin segera lulus dan mendapat nilai terbaik, kemudian aku akan belajar di Universitas terbaik dikota dan meninggalkan desa ini untuk selama-lamanya.
Dua tahun, dua tahun lagi, aku harus bersabar selama dua tahun untuk segera keluar dari desa yang busuk ini.
“Tok, tok, tok..” Suara ketukan pintu kamarku, disertai suara ayah memanggil namaku. Kemudian pintu kamarku terbuka perlahan-lahan.
“Ada apa ayah?” Tanyaku
“Aku membawakan makan siangmu. Bukankah tadi kamu belum makan?” Kata beliau.
“Iya, terima kasih.” Lanjutku.
Aku memandang luar jendela. Terlihat banyak sekali pohon dan semak-semak. Aku memperhatikannya. Aku melihat salah-satu dari semak-semak itu bergerak pelan. Aku berdiri dari dudukku dan mendekati jendela kamarku. Tiba-tiba muncul seorang gadis dari dari semak-semak itu, gadis yang sama yang selalu mendatangiku tiap pagi. Dengan dingin dan tanpa menghiraukannya lagi, aku segara menurup jendela dan tirai di kamarku. Itu memang sudah jadi kebiasaan.
Keesokan harinya, aku kembali menyusuri jalan. Sedangkan suasana saat itu matahari sangat terik. Aku memandang kearah dimana itu adalah jalan keluar dari desa ini aku berharap bisa segera mencapai titik itu, hanya itu harapanku sselama ini.
Tak lama, kemudian aku mendengar suara langkah kaki, mendekatiku, semakin mendekat dan cepat, sangat dekat dan berhenti.
“Tokugawa-kun, kau disini lagi ya?” kata gadis itu. Seperti biasa, aku hanya cuek dan tidak menghiraukannya.
“Rasanya, aku ingin segera keluar dari desa yang menyebalkan ini..” Kata gadis itu tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. Rasa terkejutku itu membuatku melihatnya. Dia tertawa riang, seperti baru saja mendapatkan apa yang dia impikan.
Tapi....ada sesuatu yang masih mengganjal..... Siapa, siapa sebenarnya..gadis itu........
Hari terus berlalu, seperti yang sudah kukatakan, gadis itu selalu menemuiku, sekarang juga. Sudah satu tahun aku tinggal disini, tapi gadis itu belum juga memberitahukan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia selalu menemuiku, mengikutiku, bahkan selalu mengawasiku.
“Ohayou, Tokugawa-kun..!” Kata gadis itu.
“Nane desuka?” kataku, dan untuk pertama kalinya aku menjawab sapaannya.
“Ini untukmu..” kata gadis itu sambil memberikan sebuah kotak kecil bersampul kertas kado dan dihias dengan rapi.
“Apa maksudnya?” tanyaku dingin.
“Hari ini ulang tahunmu bukan? Aku mengetahuinya dari ayahmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena telah mengganggumu selama ini.” Lanjutnya.
“Jadi kau menyadarinya? Baguslah, jadi aku tak perlu memberitahumu kalau tindakanmu itu merepotkan dan membuatku risih.” Balasku dengan nada dingin.
“Baiklah, saat ini lebih baik aku pergi dulu. Sayonara, Tokugawa-kun..!” kata gadis itu lagi.
Aku berbaring sejenak dikamar, kemudian teringat oleh kotak yang diberikan gadis itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil kotak itu dilaci, kemudian duduk kembali. Aku memperhatikan kotak itu. Aku membukanya, didalamnya terdapat kota kado lagi, aku membuka kotak kado itu, dan menemukan kotak lagi, aku membuka kotaknya, dan menemukan kotak lagi. Semua ini membuatku frustasi. Jika kotak didalam kotak ini ada kotak lagi aku akan menyerah. Sebenarnya apasih yang diingankan gadis itu..?
Aku mencoba membuka kotak ini perlahan-lahan, dan aku tidak menemukan sebuah kotak lagi, melainkan sebuak kertas yang dilipat sangat kecil. Aku mengambil kertas itu, membuka dan membacanya...

Untuk :Tokugawa Yuuki-kun
Aku sangat senang sekali biasa mengenalmu, dan aku berharap kamu juga mengenalku. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dengan mengikutimu terus. Aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan dekat denagnmu, meski aku masih tidak kau pedulikan, tapi aku merasa senang. Dan...semoga kau mengerti.
Salam.
Yura Mitsuno.
Yura Mitsuno

 



Jadi, gadis itu bernama... Yura Mitsuno......