Selasa, 20 Desember 2016

Desa Yang Malang. Chapter 1: ~Gadis itu~



Sudah sekitar satu tahun aku berada didesa ini, desa terpencil yang bernama Takuyaki.
“Tokugawa-kun, Ohayou..!” kata seorang gadis dibelakangku, didikuti suara langkah kakinya yang cepat.gadis itu selalu menemuiku setiap pagi, entah apa tujuannya. Semenjak aku tinggal disini, aku selalu diikuti oleh gadis itu. Dan itu membuatku merasa risih.
Aku hanya membiarkan dan tidak membalas spaannya. Tapi baginya,aku melihat wajahnya saja sudah membuatnya bahagia.
Aku berjalan menyusuri desa, dan berkali-kali melihat para orang tua didesa sedang bergosip. Telingaku teras panas mendengarnya. Aku berharab bisa segaera keluar dari desa yang busuk ini.
“Aku pulang.” Kataku sambil mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Kulihat orang dibalik pintu itu. Tokugawa Kisimoto, ayahku. Dia yang membuka pintunya.
“Yuuki, kau habis dari mana?” tanya beliau.
“Aku habis keluar, sekarang aku capek, aku mau kekamar.” Kataku dan beranjak kekamar.
Seandainya ayah berubah pikiran, seandainya beliau tidak pindah kedesa busuk ini.......
Cerita asal mula aku disini...... ~Tokugawa Yuuki~
Saat itu, aku masih duduk di kelas 3 SMP di Kyoto. Aku merasa nyaman tinggal disana. Kota besar yang menyediakan semua kebutuhanku. Dan mereka, kakek, nenek , ayah, dan ibuku, mereka semua menyayangiku. Tapi, kemalangan yang besar menimpa keluargaku. Kakekku meninggal ketika nenek tertimpa sakit berat. Dan tak lama setelah kepergian kakek, nenk pun ikut meningglakan kami. Pada awalnya aku tak percaya akan jadi sperti ini. Kemudian ayah mengambil keputusan untuk meninggalkan kota dan tinggal didesa. Pada awalnya aku memang sudah tidak setuju, karena aku tak tega meninggalkan makam kakek dan nenek sendiri di Kyoto yang ramai ini, tapi aku tak bisa melawan permintaan ibu. Dan karena itulah aku mau tinggal didesa ini.
Jujur saja, aku sangat tidak nyaman tinggal didesa ini. Aku ingin segera lulus dan mendapat nilai terbaik, kemudian aku akan belajar di Universitas terbaik dikota dan meninggalkan desa ini untuk selama-lamanya.
Dua tahun, dua tahun lagi, aku harus bersabar selama dua tahun untuk segera keluar dari desa yang busuk ini.
“Tok, tok, tok..” Suara ketukan pintu kamarku, disertai suara ayah memanggil namaku. Kemudian pintu kamarku terbuka perlahan-lahan.
“Ada apa ayah?” Tanyaku
“Aku membawakan makan siangmu. Bukankah tadi kamu belum makan?” Kata beliau.
“Iya, terima kasih.” Lanjutku.
Aku memandang luar jendela. Terlihat banyak sekali pohon dan semak-semak. Aku memperhatikannya. Aku melihat salah-satu dari semak-semak itu bergerak pelan. Aku berdiri dari dudukku dan mendekati jendela kamarku. Tiba-tiba muncul seorang gadis dari dari semak-semak itu, gadis yang sama yang selalu mendatangiku tiap pagi. Dengan dingin dan tanpa menghiraukannya lagi, aku segara menurup jendela dan tirai di kamarku. Itu memang sudah jadi kebiasaan.
Keesokan harinya, aku kembali menyusuri jalan. Sedangkan suasana saat itu matahari sangat terik. Aku memandang kearah dimana itu adalah jalan keluar dari desa ini aku berharap bisa segera mencapai titik itu, hanya itu harapanku sselama ini.
Tak lama, kemudian aku mendengar suara langkah kaki, mendekatiku, semakin mendekat dan cepat, sangat dekat dan berhenti.
“Tokugawa-kun, kau disini lagi ya?” kata gadis itu. Seperti biasa, aku hanya cuek dan tidak menghiraukannya.
“Rasanya, aku ingin segera keluar dari desa yang menyebalkan ini..” Kata gadis itu tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. Rasa terkejutku itu membuatku melihatnya. Dia tertawa riang, seperti baru saja mendapatkan apa yang dia impikan.
Tapi....ada sesuatu yang masih mengganjal..... Siapa, siapa sebenarnya..gadis itu........
Hari terus berlalu, seperti yang sudah kukatakan, gadis itu selalu menemuiku, sekarang juga. Sudah satu tahun aku tinggal disini, tapi gadis itu belum juga memberitahukan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia selalu menemuiku, mengikutiku, bahkan selalu mengawasiku.
“Ohayou, Tokugawa-kun..!” Kata gadis itu.
“Nane desuka?” kataku, dan untuk pertama kalinya aku menjawab sapaannya.
“Ini untukmu..” kata gadis itu sambil memberikan sebuah kotak kecil bersampul kertas kado dan dihias dengan rapi.
“Apa maksudnya?” tanyaku dingin.
“Hari ini ulang tahunmu bukan? Aku mengetahuinya dari ayahmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena telah mengganggumu selama ini.” Lanjutnya.
“Jadi kau menyadarinya? Baguslah, jadi aku tak perlu memberitahumu kalau tindakanmu itu merepotkan dan membuatku risih.” Balasku dengan nada dingin.
“Baiklah, saat ini lebih baik aku pergi dulu. Sayonara, Tokugawa-kun..!” kata gadis itu lagi.
Aku berbaring sejenak dikamar, kemudian teringat oleh kotak yang diberikan gadis itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil kotak itu dilaci, kemudian duduk kembali. Aku memperhatikan kotak itu. Aku membukanya, didalamnya terdapat kota kado lagi, aku membuka kotak kado itu, dan menemukan kotak lagi, aku membuka kotaknya, dan menemukan kotak lagi. Semua ini membuatku frustasi. Jika kotak didalam kotak ini ada kotak lagi aku akan menyerah. Sebenarnya apasih yang diingankan gadis itu..?
Aku mencoba membuka kotak ini perlahan-lahan, dan aku tidak menemukan sebuah kotak lagi, melainkan sebuak kertas yang dilipat sangat kecil. Aku mengambil kertas itu, membuka dan membacanya...

Untuk :Tokugawa Yuuki-kun
Aku sangat senang sekali biasa mengenalmu, dan aku berharap kamu juga mengenalku. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dengan mengikutimu terus. Aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan dekat denagnmu, meski aku masih tidak kau pedulikan, tapi aku merasa senang. Dan...semoga kau mengerti.
Salam.
Yura Mitsuno.
Yura Mitsuno

 



Jadi, gadis itu bernama... Yura Mitsuno......

0 komentar:

Posting Komentar