Sudah
satu minggu sejak dia meberitahu namanya, tetapi dalama satu minggu ini dia
malah tidak muncul. Tidak seperti biasanya yang selalu mengikutiku. Apa yang
sebanarnya terjadi?
Kabar demi kabar telah tersebar,
gadis itu, Yura Mitsuno. Telah meninggal?
Awal
mula sebelum kejadian... ~Yura Mitsuno~
Aku
merasa sangat lega sekali karena sudah kusampaikan keinginanku padanya. Aku
berharap, diamengerti. Meskipun dia pasti tidak peduli.
Aku
gelisah, sudah dua hari sejak saat itu, tapi sampai sekarang dia tidak membalas
suras kadoku. Apa lebih baik aku menemuinya ya?
Baiklah
aku akan menemuinya.
....
Aku
berjalan menyusuri desa, menuju tempat tinggal Tokugawa Yuuki-kun. Aku berharap
dia tidak pergi keluar.
Dengan
riang aku berjalan sambil berdendang, tapi......
Tubuhku
serasa bergerak sendiri, menuju rumah mewah diatas bukit sana. Kudengar dari
para warga bahwa baru saja ada keluarga yang pindah kesana. Tanpa diduga tanpa
dirasa, keinginanku pun berubah untuk menyelidiki rumah itu.
Aku menuruti hati dan tubuhku,
dan memasuki rumah itu....
Rumah
Yura Mitsuno....
“kotoba,
anakmu pergi kamana?” kata ayah Yura.
“Aku
tidak tau, bahkan aku juga khawatir Mistuno” kata ibu Yura.
“ya tuhan, lindungilah putri
kami...” kata ibu Yura.
Saat
aku berjalan didepan rumah Yura Mitsuno, tak sengaja aku mendengarkan omongan
para orang tua didepan rumahnya..
“Mitsuno-san,
mitsuno-san...Yura..Yura telah ditemukan, dia dalam keadaan tidak sadarkan
diri...!” kata salah satu tetangga keluarga Mitsuno.
“Benarkah?
Beritahu aku dimana dia.!?” Kata Mitsuno-san dengan wajah panik.
“Dia
dibawa ke klinik Haruno-san.” Jawab salah satu warga lainnya.
“Baiklah
kami akan kesana. Kotoba, ayo!” seru Mitsuno-san.
Setelah itu, mereka menemui Yura
Mitsuno ke klinik Haruno-san.
Aku
diam-diam mengikuti mereka.
Aku
mengintip dari jendela kamar yang dipakai untuk merawat Yura Mitsuno. Kulihat
wajahnya yang sangat pucat, terlihat linglung, dan sangat dingin. Meski aku
hanya melihatnya.
Wajah
panik dan kasihan terlukis di wajah orang tuanya. Sedangkan ibu Yura mitsuno
sudah menangis sejadi-jadinya.
Aku segera meninggalkan klinik
dan pulang.
Tidak
lama setelah ditemukannya Yura Mitsuno, ada kabar bahwa dia meninggal.
Aku
kembali mengunjungi klinik. Seperti biasa, aku selalu kesana diam-diam.
Kotoba-san
kembali menangis dan Mitsuno-san mencoba untuk menenangkan Kotoba-san.
Aku juga melihat dokter Haruno
dengan tidak kuasanya menahan kegagalannya. Meskipun ini bukan sepenuhnya
menjadi salahnya.
Aku
pergi kerumahnya untuk melayat, aku hanya memberi penghormatan terakhir lalau
pulang.
“Tokugawa
Yuuki-san...!!” kata seorang gadis yang berlarian menujuku.
“Hm,
siapa kau, ada urusan apa?” balasku.
“Sebentar,
sepertinya aku pernah melihatmu bersama Yura Mitsuno. Apa kau temannya?”
lanjutku.
“Iya
benar, aku temannya. Tokugawa-san aku mohon terimalah ini, ini adalah ucapan
terakhir Yura-chan, aku mohon bacalah!” kata gadis itu bersama diberikannya
sebuah surat. Aku menerimanaya.
“Ano,
apa kamu tidak ikut kepemakan Yura-chan?” kata gadis itu lagi.
“Aku tidak punya hak untuk
mengikuti pemakamannya. Lagi pula, aku bukan apa-apanya.” Kataku dingin dan
meninggalkan rumah duka Yura Mitsuno.
Aku
kembali kerumah, dengan perasaan seperti tidak terjadi apa-apa, karna aku memang
orang bertipe tidak peduli.
“Sekarang
aku tidak perlu lagi menutup jendela kamarku.”
.........

0 komentar:
Posting Komentar