Selasa, 20 Desember 2016

Desa Yang Malang. Chapter 2 : ~Kematian pertama~



Sudah satu minggu sejak dia meberitahu namanya, tetapi dalama satu minggu ini dia malah tidak muncul. Tidak seperti biasanya yang selalu mengikutiku. Apa yang sebanarnya terjadi?
Kabar demi kabar telah tersebar, gadis itu, Yura Mitsuno. Telah meninggal?
Awal mula sebelum kejadian... ~Yura Mitsuno~
Aku merasa sangat lega sekali karena sudah kusampaikan keinginanku padanya. Aku berharap, diamengerti. Meskipun dia pasti tidak peduli.
Aku gelisah, sudah dua hari sejak saat itu, tapi sampai sekarang dia tidak membalas suras kadoku. Apa lebih baik aku menemuinya ya?
Baiklah aku akan menemuinya.
....
Aku berjalan menyusuri desa, menuju tempat tinggal Tokugawa Yuuki-kun. Aku berharap dia tidak pergi keluar.
Dengan riang aku berjalan sambil berdendang, tapi......
Tubuhku serasa bergerak sendiri, menuju rumah mewah diatas bukit sana. Kudengar dari para warga bahwa baru saja ada keluarga yang pindah kesana. Tanpa diduga tanpa dirasa, keinginanku pun berubah untuk menyelidiki rumah itu.
Aku menuruti hati dan tubuhku, dan memasuki rumah itu....
Rumah Yura Mitsuno....
“kotoba, anakmu pergi kamana?” kata ayah Yura.
“Aku tidak tau, bahkan aku juga khawatir Mistuno” kata ibu Yura.
“ya tuhan, lindungilah putri kami...” kata ibu Yura.
Saat aku berjalan didepan rumah Yura Mitsuno, tak sengaja aku mendengarkan omongan para orang tua didepan rumahnya..
“Mitsuno-san, mitsuno-san...Yura..Yura telah ditemukan, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri...!” kata salah satu tetangga keluarga Mitsuno.
“Benarkah? Beritahu aku dimana dia.!?” Kata Mitsuno-san dengan wajah panik.
“Dia dibawa ke klinik Haruno-san.” Jawab salah satu warga lainnya.
“Baiklah kami akan kesana. Kotoba, ayo!” seru Mitsuno-san.
Setelah itu, mereka menemui Yura Mitsuno ke klinik Haruno-san.
Aku diam-diam mengikuti mereka.
Aku mengintip dari jendela kamar yang dipakai untuk merawat Yura Mitsuno. Kulihat wajahnya yang sangat pucat, terlihat linglung, dan sangat dingin. Meski aku hanya melihatnya.
Wajah panik dan kasihan terlukis di wajah orang tuanya. Sedangkan ibu Yura mitsuno sudah menangis sejadi-jadinya.
Aku segera meninggalkan klinik dan pulang.
Tidak lama setelah ditemukannya Yura Mitsuno, ada kabar bahwa dia meninggal.
Aku kembali mengunjungi klinik. Seperti biasa, aku selalu kesana diam-diam.
Kotoba-san kembali menangis dan Mitsuno-san mencoba untuk menenangkan Kotoba-san.
Aku juga melihat dokter Haruno dengan tidak kuasanya menahan kegagalannya. Meskipun ini bukan sepenuhnya menjadi salahnya.
Aku pergi kerumahnya untuk melayat, aku hanya memberi penghormatan terakhir lalau pulang.
“Tokugawa Yuuki-san...!!” kata seorang gadis yang berlarian menujuku.
“Hm, siapa kau, ada urusan apa?” balasku.
“Sebentar, sepertinya aku pernah melihatmu bersama Yura Mitsuno. Apa kau temannya?” lanjutku.
“Iya benar, aku temannya. Tokugawa-san aku mohon terimalah ini, ini adalah ucapan terakhir Yura-chan, aku mohon bacalah!” kata gadis itu bersama diberikannya sebuah surat. Aku menerimanaya.
“Ano, apa kamu tidak ikut kepemakan Yura-chan?” kata gadis itu lagi.
“Aku tidak punya hak untuk mengikuti pemakamannya. Lagi pula, aku bukan apa-apanya.” Kataku dingin dan meninggalkan rumah duka Yura Mitsuno.
Aku kembali kerumah, dengan perasaan seperti tidak terjadi apa-apa, karna aku memang orang bertipe tidak peduli.
“Sekarang aku tidak perlu lagi menutup jendela kamarku.”
.........

0 komentar:

Posting Komentar